Masih di Yogyakarta, Kali ini eki akan mengulas catatan perjalanan yang menyenangkan di salah satu Jalan yang Paling Populer di Daerah Istimewa Yogyakarta.
JALAN MALIOBORO
Malioboro Street
(ꦗꦭꦤ꧀ ꦩꦭꦶꦪꦧꦫ)
Siapa yang tak pernah mendengar nama jalan Malioboro ? Bahkan
orang yang belum pernah menginjakkan kaki di tanah sultan ini pun pasti sudah
pernah mendengar nama jalan ini. Jalan Malioboro seakan tak pernah lepas dari
bahasan saat orang berbicara tentang Yogyakarta. Jalan ini seolah menjadi satu
kesatuan saat kita berbicara tentang kunjungan ke Yogyakarta, sampai muncul
sebuah ungkapan yang menyatakan kalau berkunjung ke Yogyakarta rasanya belum Afdhol
bila belum menyusuri jalan Malioboro dan berfoto di Tugu Paal Putih yang
menjadi ikon kota pelajar ini.
Jalan Malioboro merupakan jalan yang cukup ternama di
Yogyakarta. Jalan
yang terletak di jantung kota Yogyakarta ini memang salah satu titik wisata
yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun manca negara.
Tidak terlalu sulit untuk menemukan jalan Malioboro. Jika Anda dari luar kota
dan menggunakan kereta api, maka turunlah di stasiun Tugu. Dari stasiun Tugu
Anda cukup berjalan kaki kira-kira 100 meter ke arah timur dari pintu keluar,
maka Anda akan mendapati jalan bertuliskan plang bertuliskan “Jalan Malioboro”. Jika
anda sedang berada di Tugu Paal Putih, anda berjalan lurus beberapa ratus meter
ke arah selatan. Apabila anda berhenti di kilometer 0 Yogyakarta, anda hanya
perlu menempuh jarak satu kilometer ke arah utara. Karena letaknya yang berada
di pusat kota Yogyakarta, sehingga untuk
menuju kesana dapat ditempuh melalui arah manapun.
Bagi pengunjung yang hendak
melakukan ekspedisi menyisir koridor jalan lurus yang membentang dari KM 0
Yogyakarta menuju Tugu Pal Putih. Hendaknya memulai perjalanan dari gedung Pos
Yogyakarta. Dari gedung pos, jalan ke arah utara, menyebrang ke Monumen
Serangan Umum 1 Maret 1949. Seiring langkah kaki yang diayunkan menuju utara
melalui Jalan Ahmad Yani, mata akan mulai dimanjakan oleh pedagang-pedagang
makanan, cendramata, jasa foto bahkan jasa tattoo yang mengisi sepanjang trotoar
pedestrian yang kita lalui. Selain mendengar keramaian para pedagang, telinga
akan mendengar alunan irama gamelan yang diperdengarkan melalui pengeras-suara
yang terpasang sepanjang koridor jalan tersebut. Keramaian yang dijumpai sepanjang
koridor tersebut seakan menghipnotis pengunjung sehingga membuat tak terasa
lelah ribuan langkah kaki yang telah diayunkan.
Dipenghujung koridor Jalan
Ahmad Yani, akan kita jumpai persimpangan yang apabila kita lanjutkan
perjalanan ke arah utara, maka kita akan memasuki jalan Malioboro yang tersohor
itu. Sebelum itu, di sisi timur penghujng koridor tersebut terdapat tempat yang
dipenuhi oleh kios-kios pakaian oblong hingga Batik, cendramata, gerabah dan
makanan khas Yogyakarta. Bagi pengunjung muslim yang hendak mendirikan sholat,
maka langkah kali agak diperpanjang beberapa puluh meter menyusuri jalan kearah
timur karena disana terdapat fasilitas ibadah berupa masjid. Usai sholat,
pengunjung dapat beristirahat sekadar meluruskan kaki dan punggung sejenak di
masjid tersebut sebelum melanjutkan perjalanan yang masih cukup panjang.
Kembali lagi di persimpangan
jalan A. Yani dan Jalan Malioboro. Apabila langkah dilanjutkan kearah utara
memasuki jalan Malioboro, kita akan disambut oleh sebuah pusat perbelanjaan
tradisional yang cukup tua lagi ternama di Yogyakarta, yakni Pasar Beringharjo
di sisi timur. Mulai dari sana, trotoar yang akan ditempuh seolah menyempit
karena intensitas keramaian yang meningkat. Sepanjang jalur pedestrian tersebut
tampak berjajar rapi lapak pedagang kaki lima yang menjajakan buah, jajanan
tradisional, oleh-oleh khas Yogyakarta, souvenir dan lain sebagainya. Masih di
sisi yang sama, akan kita jumpai pusat perbelanjaan modern Mall Malioboro yang
sepanjang jalur pedestrian di depan bangunan tersebut dijadikan tempat parkir
kendaraan roda dua diberikan kanopi dan diberi hiasan berupa lampu-lampu kecil
yang bergelantungan menyerupai tirai. Jika telah melalui tempat tersebut,
artinya tak lama lagi sampai di penghujung koridor jalan tersebut. Koridor
Jalan malioboro ini memang dipenuhi oleh pusat-pusat perbelanjaan, pedagang
makanan, cendramata khas Yogyakarta dan pedagang-pedagang lainya.
Setibanya di persimpangan Jalan
Malioboro tersebut, pemandangan yang dilihat berupa jalur kereta api. Karena
seratus meter kearah barat melalui jalan Pasar Kembang, akan dijumpai stasiun
kereta api yang telah berdiri sejak jaman belanda yakni Stasiun Kereta Api Tugu
Yogyakarta. Setelah menyebrangi jalur kereta api dan melanjutkan perjalanan ke
arah utara, mata tak akan lagi disuguhkan pemandangan berupa keramaian pedagang
kaki lima. Pemandangan akan lebih luas, kepala akan mulai menengadah memandang
ke atas. Karena Di sepanjang Jalan tersebut berdiri megah sederetan hotel-hotel
mewah dengan bergaya modern dihiasi permainan cahaya nan indah pada fasadnya
yang menambah keindahan jalan tersebut.
(Jalan Sekitar Tugu Paal Putih yang "Bermandikan Cahaya")
Tiba di ujung koridor tersebut,
akan tampak tugu putih yang disoroti cahaya lampu dari kakinya. Ya, Itulah tugu
Pal Putih (De Witte Paal Monumen) yang menjadi kebanggaan masyarakan
Yogyakarta. Dihimbau bagi para pengunjung agar tidak terburu-buru menyebrang ke
tugu tersebut. Karena tugu tersebut berada di tengah-tengah persimpangan yang
ramai kendaraan berlalu-lalang disana. Maka dari itu ada baiknya mengarahkan
pandangan ke sisi timur jalur pedestrian yang sama, tepat di sebelah tenggara
tugu tersebut, terdapat taman dengan replika tugu golong gilig yang
merupakan tugu pertama sebagai simbol kesatuan masyarakat Yogyakarta masa itu yang
berbentuk silinder (gilig) pada badan tugu, dan Bola (Golong) pada
puncaknya. Itulah wujud awal tugu Jogja yang pernah berdiri di tempat tugu Paal
putih berdada saat ini. Disana juga terdapat podium (Panggung Krapyak)
yang diatasnya tertata sebuah miniatur yang menunjukkan posisi keraton dan Tugu
tersebut berada pada garis yang lurus, dimana keraton berada di sisi selatan
dan tugu berada di sisi utara. Jalur itulah yang baru saja kita tempuh untuk menuju
kemari. Pada sisi tembok yang membatasi taman dengan bangunan sekitarnya,
terdapat gambar-gambar yang menceritakan
sejarah pembuatan tugu golong gilig, runtuhnya tugu golong gilig
akibat gempa bumi yang menghantam Yogyakarta pada tanggal 4 Sapar 1796 J
menurut penanggalan jawa (10 Juni 1867
M) yang dikenang melalui candrasengkala*) “Obah Trus Pitung Bumi”.
Inggasampai akhirnya proses pemabngunan kembali tugu tersebut dengan bentuk yang saat ini dikenal sebagai
Tugu Pal Putih Yogyakarta yang diresmikan pada 7 Sapar 1819 J (3 Oktober 1889
M) yang dikenang melalui candrasengkala “Wiwara Harja Manggala Praja”.
Bagi pengunjung yang enggan atau kesulitan membaca, di taman tersebut juga
disediakan monitor LCD besar yang memutar animasi sejarah perkembangan tugu
paal putih tersebut. Tujuan dari taman dengan fasilitas informasi yang
sedemikian lengkap yang menceritakan sejarah tugu golong gilig hingga
menjadi Tugu Paal Putih, agar pengunjung dapat mengetahui sejarah dari tugu
tersebut. Tidak sekadar mengambil gambar dan numpang eksis saja disana atau
mengambil gambar sebagai pelengkap kunjungan di Yogyakarta.
(Eki Sedang menikmati hidangan angkringan di sekitar Tugu Paal Putih)
Setelah mengetahui sejarah
tentang Tugu Pal Putih, pengunjung dapat bersantai sejenak sembari menikmati
pemandangan sekitar. Bagi pengunjung yang hendak beristirahat melepas lelah
atau ingin menikmati sensasi minum kopi joss, pengunjung dapat singgah di kedai
angkringan yang tak sulit dijumpai di sekitar persimpangan tersebut. Sekadar
informasi tambahan, Kedai angkringan adalah tempat makan yang menjajakan aneka
olahan nasi, sayur dan lauk-pauknya yang telah dikemasi sedemikian rupa dan
langsung dibandroll harga guna memudahkan pembeli dan penjual dalam pembayaran.
Adapun Kopi Joss, adalah secangkir kopi hitam biasa yang didalamnya terdapat
bongkahan arang yang masih menyala sehingga menimbulkan bunyi “Jossssss...”
saat dicelupkan. Baik harga makanan maupun minuman di angkringan ini relatif
terjangkau, karena memang kedai-kedai angkringan banyak dijadikan tempat nongkrong
kawula muda Yogyakarta. Bagi pengunjung yang belum pernah menyantap hidangan
ala angkringan dan mencicipi minuman kopi joss Yogyakarta, maka disanalah
tempat yang tepat. Karena sembari lidah bergoyang menikmati hidangan yang
tersedia, mata juga ikut menikmati keramaian kota Pelajar lengkap dengan
pemandangan Tugu Pal Putih Yogyakarta. (ꦌꦏꦶ)
-.-.-.-.-.-
*) Candrasengkala :
Metode yang digunakan masyarakat jawa dengan mengubah bilangan Tahun
menjadi kalimat guna mengingat suatu
kejadian yang dibaca secara terbalik dari angka terakhir tahun tersebut. Misalnya
1796 menjadi “Obah (6) Trus (9) Pitung (7) Bumi (1)”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar