Kamis, 14 Juli 2016

METODE PENDEKATAN DESAIN BERBASIS KOMUNITAS (Studi Kasus D.I. Yogyakarta)

PENGERTIAN
Sebelum kita melakukan pembahasan lebih jauh terkait Metode pendekatan desain berbasis Komunitas, terlebih dahulu kita harus mengetahui arti dari kata-kata penyusun kalimatnya sehingga tak ada kerancuan dlam memaknai kalimat tersebut. Metode berasal dari kata “methodos” yang terdiri dari kata “metha” yaitu melewati, menempuh atau melalui dan kata “hodos” yang berarti cara atau jalan. Metode artinya cara atau jalan yang akan dilalui atau ditempuh. Ada dua hal penting dalam metode yaitu cara dalam melakukan sesuatu dan sebuah rencana dalam pelaksanaannya. Adapun fungsinya sebagai alat untuk mencapai sebuah tujuan. Kita akan fokuskan pembahasan kali ini secara tuntas mengenai pengertian dan definisi metode menurut para ahli. Adapun pengertiannya antara lain :
  1. Menurut KBBI, metode adalah cara kerja yang mempunyai sistem dalam memudahkan pelaksanaan dari suatu kegiatan untuk mencapai sebuah tujuan tertentu.
  2. Departemen Sosial RI menjelaskan bahwa metode merupakan suatu cara teratur yang digunakan dalam menjalankan suatu pekerjaan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
  3. Drs.Agus M. Hardjana mengemukakan metode ialah cara yang telah dipikirkan secara matang yang dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu demi tercapainya sebuah tujuan.
  4. Titus, mengatakan bahwa metode ialah serangkaian cara dan langkah-langkah yang tertib untuk menegaskan suatu bidang keilmuan.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, untuk kata metode dapat kita simpulkan sebagai cara, langkah dan tahap yang dilakukan secara sistematis saat hendak melakukan suatu kegiatan untuk mempermudah pekerjaan yang akan dilakukan.  Sedangkan kata Pendekatan (Approach) dapat diartikan sebagai The way of begining something, yakni cara memulai sesuatu. Tak berbeda jauh dengan ‘Metode’, hanya saja ‘Pendekatan’ hanya menekankan kepada bagiamana untuk memulai tanpa menjelaskan tahapan-tahapan secara sistematis.
Kemudia kita beralih ke kata Desain, yang dalam hal ini kita kerucutkan makna desain lebih ranah arsitektural. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, dalam sebuah kalimat, kata "desain" bisa digunakan, baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, "desain" memiliki arti "proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru". Sebagai kata benda, "desain" digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk benda nyata. Desain secara etimologi, istilah Desain merupakan serapan dari bahasa inggris "Design"  yang ternyata  merupakan beberapa serapan bahasa, yaitu kata "designo" dari bahasa Itali  yang secara gramatikal berarti gambar dan bermakna:, to make preliminary sketches of, to plan and carry out experiment, to form in the mind dan dari bahasa Latin kata "designare" yang bermakna “a plan, scheme, a project”. Sehingga sampai pada pemikiran kita  bahwa desain memiliki makna sebuah  proses merencanakan  merancangan sesuatu dengan tujuan agar sesuatu yang di desain memiliki fungsi, makna dan nilai keindahan. Desain merupakan bentuk rumusan dari proses pemikiran, pertimbangan dan perhitungan dari sang perancang yang biasanya tertuang dalam bentuk grafis berupa gambar sketsa ide.
Selanjutnya kita beranjak ke kata Komunitas. Secara umum Komunitas dapat dikatakan kelompok sosial yang berasal dari beberapa organisme yang saling berinteraksi di dalam daerah tertentu dan saling bebagi lingkungan. Biasanya mempunyai ketertarikan dan habitat yang sama yang memiliki kesamaan ciri khas pada tiap-tiap anggotanya. Berikut Pengertian Komunitas menurut beberapa tokoh;
1.    Menurut Hendro Puspito – Komunitas atau Kelompok sosial adalah suatu kumpulan nyata, teratur & tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan bersama.
2.    Lalu menurut Soenarno – Komunitas adalah sebuah identifikasi & interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional.
3.    Dan menurut Paul B. Horton & Chaster L. Hunt – Kelompok sosial adalah suatu kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya & saling berinteraksi.
Tujuan dibentuknya komunitas yaitu untuk dapat saling membantu satu sama lain dalam menghasilkan sesuatu, sesuatu tersebut adalah tujuan yang telah di tentukan sebelumnya.
Sekarang kita kembali ke bahasan utama kita, yakni Metode Pendekatan Desain berbasis Komunitas. Setelah kita jabarkan pengertian dari tiap kata penyusunnya maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa Metode Pendekatan Desain berbasis Komunitas merupakan  tahapan sistematis yang ditempuh sebelum melakukan proses perancangan yang melibatkan partisipasi kelompok sosial dalam perancangan tersebut.
Metode Pendekatan Desain berbasis Komunitas tidak hanya berbicara masalah fungsi, estetika dan struktur semata. Melainkan Metode Pendekatan Desain berbasis Komunitas berbicara mengenai hal yang lebih mendalam terkait pola perilaku, dan berbagai permasalahan kehidupan sosial yang berkembang di tengah masyarakat pada suatu daerah.

GERAKAN ARSITEK KOMUNITAS
Metode pendekatan perancangan berbasis komunitas ini kebanyakan dilakukan oleh lembaga-lembaga yang peduli dengan kehidupan masyarakat marginal yang biasanya tinggal di pemukiman kurang layak huni (kumuh).  Salah satu lembaga yang menerapkan metode pendekatan desain berbasis komunitas ini ialah para aktivis gerakan Arsitek komunitas. Gerakan arsitek komunitas  merupakan gerakan arsitektural di bidang sosial  yang tersebar di sembilan belas negara wilayah Asia. Gerakan Arsitek komunitas muncul sebagai jawaban atas  issu keberpihakan. Issu keberpihakan yang dimaksud disini adalah saat ini kita dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan pertama menuntut kemewahan diamana sisi ini depegang oleh mereka yang berkantong tebal. Sedangkan pilihan kedua menuntut keadilan, dimana kendali dipegang oleh mereka yang peka dimana hati dan fikiran mereka tergugah untuk menolong sesama. Karena sesungguhnya tidak ada orang yang bangga tinggal di pemukiman kumuh, tidak ada orang yang bercita-cita hidup susah. Namun mereka menjadi demikian karena keadaan yang memaksa mereka.

Gerakan Arsitek Komunitas bukan hanya membangun sarana-prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat marjinal. Namun lebih dari itu, Gerakan Arsitektur komunitas berupaya membangkitkan semangat dan menyulut api motivasi dalam diri warga marjinal untuk dapat menunjukkan bahwa mereka berdaya dan layak diperhitungkan ditengah kehidupan perkotaan.


Terciptanya pemukiman kurang layak huni di tengah perkotaan salah satu faktornya dikarenakan permasalahan urban dimana tingkat populasi yang semakin meningkat sehingga kebutuhan akan area tinggal juga turut meningkat sementara ketersediaan lahan kosong di tengah perkotaan semakin berkurang. Hal ini menimbulkan persaingan perebutan lahan dan hal ini lah yang membuat lahan menjadi suatu komoditas yang dinilai dengan uang. Sehingga tanah-tanah diperkotaan dapat dengan mudah dimiliki oleh mereka yang memiliki uang, sementara warga lokal yang tak berdaya membayar untuk tanah yang dijejakinya, maka ia harus tersingkir dari medan persaingan dan terpaksa membuka hunian di tempat yang jauh dari kata layak.

PERMASALAHAN PEMUKIMAN DI JOGJAKARTA

Potret Kawasan Pinggiran salah satu Sungai di Yogyakarta
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Setiap daerah tentunya memiliki keunikan budaya dan permasalahan sosial yang berbeda-beda. Daerah Istimewa Jogjakarta misalnya, yang kebanyakan diketahui oleh masyarakat luas bahwa Daerah istimewa Jogjakarta merupakan daerah berbudaya. Rakyat Jogja dikenal sebagai orang-orang yang ramah serta santun. Kehidupan di Jogja juga dikenal asri dimana adat budaya Jawa masih kental  dilestarikan sampai-sampai mereka —rakyat Jogja—  masih menerapkan sistem pemerintahan keraton ala jaman kerajaan mataram tempo dulu. Daerah ini juga terletak di tempat yang strategis secara geografis. Penampang alam yang menarik seperti gunung, gua hingga laut dengan pantai yang indah juga ada di Jogja. Oleh karena itu, selain dikenal wisata budayanya, Jogjakarta juga dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam yang menarik di Indonesia.
Jauh teralihkan dari pengetahuan dan anggapan orang bahwa Jogjakarta merupakan tempat yang asri, beradat, berbudaya dan merupakan paket wisata yang komplit. Jogjakarta juga menyimpan masalah-masalah perkotaan yang cukup pelik. Ditengah perkembangan dan kemajuan pradaban yang terjadi di Daerah Istimewa Jogjakarta, seolah menggiring masyarakat sekitar Daerah istimewa Jogjakarta agar berbondong-bondong hijrah dan menetap di kota Berhati Nyaman tersebut. Hal ini menyebabkan peningkatan kepadatan penduduk Jogjakarta yang tentunya sangat mempengaruhi laju peningkatan kebutuhan akan ruang tinggal.
Peningkatan kebutuhan akan ruang tinggal, dengan kondisi alamiah tanah yang pada hakikatnya tidak dapat berkembang mengikuti pola peningkatan kebutuhan masyarakat tersebut, memicu timbulnya persaingan memperebutkan jengkal-demi jengkal lahan yang ada di kota tersebut. Dalam persaingan ini, pada akhirnya yang dimenangkan ialah mereka yang mampu membayar lebih untuk penggalan lahan yang hendak mereka tempati. Hal ini menyebabkan orang-orang yang ‘kalah’ dalam persaingan tadi terpaksa mengisi ruang-ruang kosong yang tersisa demi mendapatkan penghidupan di kota ini. Mereka—orang yang tak mampu membayar—mulai mendirikan hunian di tempat-tempat yang tak semestinya dijadikan tempat bermukim seperti misalnya di bawah jembatan, di bantaran sungai, bahkan ada yang mendirikan rumah di atas wedi kengser[1]. Oleh karena itu, bukan hal yang asing apabila bertandang ke Jogjakarta banyak kita lihat hunian-hunian padat di pinggiran sungai-sungai[2] di tengah kota tersebut.
Mendirikan bangunan di bantaran sungai atau bahkan sampai menjorok ke badan sungai selain merusak citra kota karena (pasti) akan menjadi pemukiman kumuh, tentunya hal ini juga sangat beresiko bagi keselamatan si penghuninya sendiri. Oleh karena itu pemerintah Daerah Istimewa Jogjakarta sendiri  telah mengeluarkan peraturan terkait larangan pembagunan di sepanjang sempadan sungai yang ada di Jogja karena Sempadan sungai merupakan Kawasan Lindung Setempat sebagimana tertuang dalam Perda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 2 Tahun 2010 paragraf 2 Kawasan Lindung Setempat Pasal 42 poin b. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Sempadan sungai bertanggul di wilayah perkotaan ialah lima meter dari kaki tanggul sepanjang sempadan tersebut. Hal ini tentu demi menjaga keselamatan dan keindahan citra kota Jogjakarta itu sendiri. Sosialisasi terkait larangan pembangunan hunian di sepanjang bantaran sungai pun sudah sering dilakukan pemrintah setempat kepada warga. Namun, warga tetap saja mendirikan tempat bermkim di area tersebut meski sudah diberitahu berkali-kali. Akar permasalahan ini kembali kepada kebutuhan akan ruang tinggal yang semakin meningkat dan ketidak berdayaan masyarakat tersebut untuk bersaing mendapatkan ruang tinggal di tempat yang seharusnya.
Fenomena pemukiman di pinggiran sungai mungkin sulit untuk direlokasi melalui jalan penggusuran mengingat mereka yang menetap disana notabenenya adalah warga Jogja yang layak mendapat perlakuan yang adil dari pemerintah. Upaya penyadaran masyarakat tentang bahaya mendirikan pemukiman di bantaran sungai juga berdampak nihil karena warga yang bermukim disana merasa aman-aman saja dan merasa tidak pernah ada sesuatu yang tidak diinginkan (sampai saat ini). Yang saat ini bisa dilakukan ialah membiarkan mereka tetap tinggal dan bagaimana caranya mereka agar tetap menjaga kelestarian sungai dan keindahan citra kota Jogjakarta.  Karena seeperti yang kita ketahui bahwa pemukiman pinggiran sungai identik dengan kekumuhan. Hal ini senada dengan yang dikatakan mas Mul dari Arkomjogja bahwa pemukiman kumuh di Jogjakarta banyak terdapat di pinggiran sungai.  Hal inilah yang menjadi pemicu munculnya lembaga-lembaga maupun komunitas aktivis peduli lingkungan dan pemukiman bantaran sungai yang salah satunya adalah lembaga Arsitek Komunitas Jogjakarta (Arkomjogja).


ARSITEK KOMUNITAS JOGJAKARTA
(Arkomjogja—ꦄꦂꦏꦺꦴꦩ꧀ꦪꦺꦴꦒ꧀ꦪ)
Arkomjogja merupakan suatu gerakan arsitektur komunitas Indonesia yang muncul  di Jogjakarta pada tahun 2010 yang dikelola oleh komunitas arsitektur yang peduli dengan kondisi lingkungan dan warga kecil. Perlu diketahui pula, bahwa Arkomjogja bukan merupakan satu-satunya gerakan arsitek komunitas yang ada di negara kita.  Di Indonesia saat ini terdapat dua gerakan Arsitektur komunitas yakni Arkomjogja dan Arkom Makasar. Gerakan-gerakan Arsitek Komunitas ini bergerak dibidang perbaikan kampung-kampung miskin, perbaikan paska bencana dan mereka bekerja bukan untuk keuntungan materi (sukarela). Hingga saat ini Arkomjogja masih aktif terlibat dalam kegiatan peningkatan kualitas masyarakat pemukiman yang berada di bantaran sungai yang ada di Jogjakarta. Selain bergerak dibidang pembinaan kampung, Arkomjogja juga bergerak di bidang pelestarian Kampung Budaya, dan upaya rekonstruksi pasca bencana seperti yang mereka lakukan pada tahun 2010, Arkomjogja sempat terlibat dalam penanganan erupsi gunung Merapi sejak masa darurat hingga masa pemulihan pemukiman lereng merapi pasca erupsi. Dalam penyelesaian masalah—perancangan—nya Arkomjogja selalu mengutamakan pemberdayaan sumber daya lokal yang ramah lingkungan. Salah satu contohnya seperti Aula bambu yang terdapat di Bumi Pemuda Rahayu (BPR), Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Jogjakarta karena didaerah ini terdapat banyak sekali bambu yang digunakan masyarakat sebagai sarana konstruksi dan membuat kerajinan berupa anyaman bambu berupa tikar, keranjang dan kerajinan lainya.
Arkomjogja lebih senang dikenal sebagai Community Organizer yang membantu mengorganisir warga dalam perspektif ruang. Arkomjogja memiliki cara pandang yang lebih terbuka daripada arsitek masa kini pada umumnya. Jika arsitek lebih banyak berkecimpung dalam hal-hal fisik seperti bangunan, sarana-prasarana dan hal fisik lainya, Arkomjogja justru bergerak kearah nonfisik seperti melakukan pembinaan terhadap warga agar mau merubah pola kehidupan kearah yang lebih baik demi terciptanya kesejahteraan warga itu sendiri.
Metode yang dilakukan Arkomjogja dalam melakukan pembinaan perkampungan ini bukan melalui tahapan yang instan. Arkomjogja harus melakukan pendekatan secara strategis dan memakan waktu yang tidak sebentar demi mendapatkan kepercayaan dari warga kampung tersebut. Seperti yang diceritakan oleh Pak Marsen Sinaga, beliau sempat menjadi guru Bahasa Inggris di salah satu kampung yang—saat itu— akan dibina Arkomjogja. Hal ini dilakukan demi melakukan pendekatan kepada warga sekitar dan mempelajari karakteristik lingkungan sosial dan pola perilaku masyarakat disana. Menjalin hubungan keakraban dengan warga disana sangat penting karena akan menimbulkan rasa saling percaya antara lembaga dengan warga kampung tersebut. Apabila sudah mendapatkan kepercayaan dari warga setempat, maka warga tak akan sungkan untuk bercerita tentang permasalahan-permasalahan perkampungan yang mereka hadapi.
Setelah mendapat kepercayaan dari warga kampung yang akan dibina, langkah selanjutnya yang dtempuh Arkomjogja ialah mengajak warga untuk berdiskusi bersama. Arkomjogja mendengarkan pemaparan yang disampaikan oleh warga terkait apa permasalahan apa yang sedang mereka hadapi dan keadaan yang bagaimana yang diinginkan oleh masyarakat. Setelah itu, Arkomjogja bersama warga bersama-sama mencari solusi terkait permasalahan yang dihadapi warga kampung binaan tersebut. Dalam hal ini Arkomjogja tidak bertindak seperti arsitek kebanyakan yang langsung menuangkan ide gagasan mereka dan memaksakan gagasan mereka untuk diterima dan diterapkan di tempat tu. Melainkan, warga sendiri lah yang merencanakan perbaikan kampung mereka sementara Arkomjogja hanya bertindak sebagai  pendamping yang memberikan pemahaman, pembinaan dan pengawasan bagi warga disana.
Setelah mendapat rumusan permasalahan, Arkomjogja membimbing warga melakukan Pemetaan Partisipatif[1]. Pemetaan partisipatif disini tidak seperti pemetaan yang dilakukan oleh arsitek kebanyakan dan juga pemetaan ini dilakukan sendiri oleh warga kampung binaan itu sendiri dalam bimbingan Arkomjogja. Hal ini diterapkan karena Arkomjogja beranggapan bahwa warga disana jauh lebih mengenal kampung mereka sendiri daripada arkom dan mereka—warga kampung binaan— yang memiliki gagasan mau diapakan kampung tersebut. Jadi warga turun tangan survey lapangan dan melalui tangan-tangan kreatif warga itu sendiri terbentuk suatu gambar komunikatif berupa peta lingkungan sekitar yang mampu menginformasikan kondisi lapangan yang lebih rinci mengenai aspek fisik dan non fisik seperti jumlah anggota keluarga, ketersediaan dan kelayakan fasilitas sanitasi, dan lain sebagainya. Pemetaan yang dilakukan langsung oleh warga akan membuat warga lebih memahami atas apa yang mereka buat. Bukan seperti gambar CAD yang justru malah sulit dimengerti oleh warga saat membacanya.
Tahap selanjutnya setelah melakukan pemetaan partisipatif ialah melakukan analisa bersama dari peta yang sudah dibuat warga tadi. Pada proses analisa ini akan ditemukan apa saja hal yang dirasa kurang di kampung tersebut dan rumah siapa yang perlu ditata terlebih dahulu. Setelah dapat apa yang harus diperbaiki, Arkomjogja mendampingi warga melakukan perencanaan pada hal-hal yang diperlukan tadi. Dalam hal ini warga sendiri yang menentukan konsepnya dan merencanakan penggunaan material apa. Arkomjogja memberi pengetahuan material kepada warga terkait kelebihan, kekurangan serta harga material tersebut. Tidak hanya mengenalkan secara lisan, namun arkom memberikan gambaran visual melalui foto-foto yang mudah dikenali oleh warga tersebut. Lalu Arkomjogja juga bertindak menjadi media visualisasi (perwujudan) atas ide-ide yang dituangkan oleh warga tersebut.
 Setelah  menemukan solusi akhir, Arkomjogja mengarahkan dan terlibat langsung dalam pembentukan tim manajemen  lapangan. Dalam manajemen lapangan ini diatur tentang pembagian jadwal gotong royong yang menyesuaikan aktivitas warga itu sendiri. Dalam manajemen lapangan ini juga dibahas mengenai rincian teknis pelaksanaan konstruksi lapangan nanti. Setelah perencanaan dan manajemen lapangan selesai, barulah memasuki tahap akhir yakni Pengerjaan Lapangan. Proses pengerjaan lapangan ini juga dilakukan oleh warga. Sehingga warga tersebut akan lebih menghargai apa yang sudah bersama-sama mereka rencanakan dari awal sehingga mereka akan bangga dan turut menjaga apa yang mereka ciptakan tersebut.
Metode yang dilakukan Arkomjogja ini tidak hanya berupa penyuluhan-penyuluhan tanpa aksi, melainkan mereka mengorganisir warga secara perlahan tapi pasti. Metode ini tak hanya menjalin kekeluargaan antara Arkomjogja dengan warga kampung binaan, melainkan juga mempererat persaudaraan dan meningkatkan kekompakan diantara warga. Karena Arkomjogja bukan hanya membangun ‘fisik’ kampung, melainkan juga mambangun hal ‘nonfisik’ yang ada dikampung tersebut.
Selain menjalin hubungan baik dengan warga yang tinggal di perkampungan bantaran sungai. Arkomjogja juga menjalin hubungan baik dengan pihak pemerintahan dan akademisi. Hal ini tak lain bermaksud menemukan bagaimana solusi yang tepat dalam penangan kasus pemukiman kumuh yang ada di Jogjakarta. Seperti yang sering kita dengar, bahwa pemerintah bisa saja menggusur pemukiman yang ada di sepanjang sempadan sungai di Jogjakarta. Namun pemerintah tidak mau melakukan itu mengingat konsekwensi yang mungkin terjadi di kemudian hari ditakutkan warga melakukan perlawanan terhadap pemerintah dan hilangnya kerukunan antar warga Jogjakarta. Solusi lain yang ditawarkan oleh pemerintah Jogjakarta adalah merelokasi warga pemukiman bantaran sungai ke rrumah susun (rusun) yang disediakan pemerintah. Namun upaya tersebut juga ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Oleh karena itu, cara yang tersisa ialah membiarkan sementara waktu warga menempati tanah illegal di bantaran sungai Jogjakarta sampai timbul kesadaran dan daya warga untuk pindah ke tempat yang lebih layak.
Jika pemerintah berfikir satu-satunya jalan meningkatkan kesejahteraan warga dengan memindahkan (relokasi) warga yang tinggal bantaran sungai  untuk tinggal rusun, Arkomjogja malah menjadikan rusun sebagai salah satu alternatif dalam upaya peningkatan taraf kesejahteraan warga. Arkomjogja memiliki beberapa alternatif dalam upaya peningkatan taraf kesejahteraan warga bantaran sungai dan warga-warga perkampungan kecil lainya. Beberapa alternatif tersebut antara lain adalah :
1.    Perbaikan di tempat (On Site Upgrade), yakni melakukan Perbaikan pada ruang yang bermasalah tanpa harus memindahkan komponen tersebut ke tempat yang baru.
2.    Berbagi Lahan (Land Sharing), yakni menyisihkan sebagian lahan privat menjadi lahan publik
3.    Penataan Ulang (­Reblocking), yakni menata ulang satu kawasan.
4.    Dimukimkan Kembali (Resettlement/Relocation), yakni memindahkan warga yang ada di kawasan tersebut ke tempat lain.
Kiprah Arkomjogja di bidang sosial patut dijadikan teladan bagi kita. Arkomjogja sebagai Community Organizer aktif membina kampung-kampung pinggiran sungai di Jogjakarta demi meningkatkan taraf kesejahteraan dan kualitas kehidupan warga pinggiran sungai di kota Jogjakarta. Dua diantara beberapa perkampungan yang dibina Arkomjogja adalah Kelurahan Pakuncen yang terletak di pinggiran sungai sungai Winongo, dan satunya lagi ialah kelurahan Notoyudan yang letaknya bersebrangan dengan Kelurahan Pakuncen. Dalam pembinaan dua perkampungan ini, Arkomjogja melibatkan komunitas setempat yang menamai diri sebagai Paguyuban Kalijawi.
Foto bersama tim Eksplorasi Arsitektur Universitas Sriwijaya dengan Keluarga Besar ArkomJogja di Aula Bambu  Bumi Pemuda Rahayu Yogyakarta
Sumber : Dokumentasi Pribadi


PAGUYUBAN KALIJAWI
(ꦥꦒꦸꦪꦸꦧꦤ꧀ ꦏꦭꦶꦗꦮꦶ)

Foto bersama tim Eksplorasi Arsitektur Universitas Sriwijaya dengan Keluarga Besar Kalijawi, di Bale-bale Kampung Pakuncen
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Paguyuban Kalijawi merupakan komunitas peduli lingkungan yang cakupan kerjanya sepanjang sungai (kali) Gajahwong dan Winongo dan keanggotaanya merupakan warga yang tinggal di perkampungan bantaran sungai Gajahwong dan Winongo itu sendiri. Paguyuban ini berdiri pada tahun 2012 dan anggotanya 90% adalah ibu-ibu. Hal yang melatarbelakangi terbentuknya paguyuban ini ialah kesadaran beberapa warga yang tinggal di sepanjang bantaran Kali Gajahwong dan Kali Winongo akan perlunya peningkatan kualitas kesejahteraan hidup bagi warga bantaran sungai Gajahwong dan sungai Winongo. Warga yang mulai tidak tahan dengan kehidupan yang ‘begitu-begitu saja’ berinisiatif membentuk suatu perkumpulan yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan di tempat tinggal mereka secara bersama-sama.
Upaya yang dilakukan Paguyuban Kalijawi sejalan dengan yang dilakukan Arkomjogja. Dimulai dengan melakukan sosialisasi ke rumah-rumah warga, mengumpulkan warga dan mengajak warga untuk merubah pola kehidupan dan jangan mau terlalu lama hidup dalam keadaan yang jauh dari kesejahteraan. Paguyuban Kalijawi menghimbau warga untuk dapat melakukan peningkatan kesejahteraan secara mandiri tanpa harus terus menunggu bantuan dari pemerintah yang tak  pasti kapan akan datang.
Program pembinaan yang dijalankan kalijawi yang masih tetap berjalan hingga saat ini diantaranya adalah membentuk  kelompok kecil komunitas yang terdiri dari beberapa warga yang rumahnya berdekatan satu sama lain. Setelah terbentuknya kelompok kecil tersebut, diadakanlah badan kas warga melalui program ‘Tabungan Komunitas’. Untuk menjalankan program tabungan komunitas ini, warga dikenai biaya sebesar Rp. 2000,- (dua ribu rupiah) setiap bulanya. Dana yang terkumpul ini digunakan untuk keperluan lingkungan seperti pembangunan fasilitas kampung bahkan digilir guna merenovasi rumah-rumah anggota komunitas secara bergantian. Pada awalnya sulit mendapat kepercayaan warga sekitar, semester pertama kiprah Kalijawi ditengah masyarakat, hanya dapat terbentuk dua kelompok kecil komunitas. Namun setelah terbukti keefektifan program kerja Kalijawi, saat ini di tahun ke tiga keberadaan kalijawi di tengah masyarakat, sudah terbentuk dua puluh tiga kelompok kecil binaan Kalijawi yang tersebar di sepanjang bantaran sungai Gajahwong dan Sungai Winongo.
Hal lain yang dilakukan Paguyuban Kalijawi demi peningkatan kesejahteraan warga ialah dengan menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain. Mengingat Paguyuban Kalijawi merupakan paguyuban yang didirikan atas inisiasi warga sekitar dan dapat dikatakan masih awam apabila bicara tentang penataan kawasan, salah satu lembaga yang menginspirasi warga membentuk Paguyuban kalijawi dan melakukan kerjasama dengan Paguyuban Kalijawi adalah Lembaga Arkomjogja. Kerjasama ini tentu dengan harapan agar tercapainya tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat tadi. Keselarasan tujuan dan kesamaan visi yang dimiliki dua kelompok ini menjadikan upaya yang mereka lakukan dalam membina kampung berjalan dengan lancar tanpa ada pertentangan.
Beberapa kampung hasil binaan Arkomjogja dan kalijawi ialah Kelurahan Pakuncen dan Notoyudan. Dua perkampungan ini letaknya saling berseberangan dipisahkan oleh sungai Winongo dan disatukan oleh sebuah jembatan.

KELURAHAN PAKUNCEN DAN NOTOYUDAN
Pakuncen merupakan nama sebuah kelurahan di kecamatan Wirobajan, kota Jogja. Kelurahan pakuncen sendiri berada di bantaran sungai Winongo. Sedangkan Notoyudan adalah Kelurahan yang berseberangan langsung dengan Kelurahan Pakuncen yang dipisahkan oleh sungai Winongo. Sebelum memperoleh binaan dari Arkomjogja dan Paguyuban Kalijawi, permasalahan yang dihadapi Kelurahan Pakuncen dan Notoyudan relatif sama yakni terkait sampah, sistem utilitas kawasan yang kurang memadai dan padatnya pemukiman sehingga tidak ada ruang komunal disana.
Untuk penanganan sampah, warga diarahkan menjalankan sistem ‘bank sampah’. Sampah yang sekiranya bisa di daur ulang dikumpulkan dan dikumpulkan dan disetor kepada pengelola bank sampah untuk ditimbang. Hasil timbangan akan dicatat oleh pihak pengelola dan dimasukkan buku catatatan keuangan (rekening) berupa nominal rupiah harga dari sampah yang tadi disetor. Uang yang terkumpul dalam tabungan dapat  diambil oleh penyetor (pemilik tabungan) jika dibutuhkan. Penerapan sistem ini cukup efektif dalam mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah di kampung ini. Karena setiap sampah menjadi begitu berharga sehingga warga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apabila melihat sampah yang tergeletak dimuka rumah mereka.
Kasus utiltas kawasan yang kurang memadai di Kelurahan Pakuncen adalah tidak adanya saluran air yang mengarahkan air hujan ke sungai. Sementara kelurahan topografi wilayah ini berkontur interval yang cukup ekstrim dengan posisi pemukiman kota Jogja diatas dan Kelurahan Pakuncen berada di wilayah kontur paling bawah (dekat sungai). Hal ini menyebabkan apabila hujan deras, maka air yang datang dari pemukiman di atas akan mengalir deras tak terkendali menerpa kawasan Kelurahan Pakuncen yang dipinggiran sungai. Masalah ini dapat diatasi dengan membuat saluran drainase tepat di bawah jalan setapak yang menjadi sarana sirkulasi keluar-masuk Kelurahan Pakuncen. Sementara permasalahan utilitas di Kelurahan Notoyudan sebagaimana diungkapkan oleh ibu Aini dari Paguyuban Kalijawi, bahwa sembilan puluh persen rumah warga di Kelurahan Notoyudan tidak memiliki septic tank  dan minim sumber air besih. Dan penyelesaian akan hal ini adalah dengan membuat suatu tempat pembuangan limbah komunal bagi warga Kelurahan Notoyudan.
Kasus yang ketiga ialah tidak terdapat ruang komunal di Kelurahan Pakuncen sehingga warga sulit untuk berkumpul bersama guna bermusyawarah maupun melakukan kegiatan bersama lainya. Karena tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan tersebut di salah satu rumah warga karena rumah warga disana dapat dikatakan cukup sempit dan padat sehingga tidak tersedia lahan kosong guna didirikan ruang komunal. Solusi yang diambil untuk mnyelesaikan masalah ini adalah dengan  mendirikan sebuah pendopo (bale-bale) dengan konstruksi bambu yang posisinya cukup ekstrim yakni diatas muara saluran drainase yang baru dibuat tadi.


Penampakan Kampung Pakuncen dan Notoyudan setelah pembinaan
Sumber : Dokumentasi Pribadi

_________________
REFERENSI
Bobsusanto. 2015. 15 Pengertian Metode Dan Metodologi Menurut Para Ahli. Didapat dari http://www.seputarpengetahuan.com/2015/02/15-pengertian-metode-dan-metodologi-menurut-para-ahli.html

N, Sora. 2015. Pengertian Komunitas dan menurut para ahli. Didapat dari http://www.pengertianku.net/2015/05/pengertian-komunitas-dan-menurut-para-ahli.html

RTRW Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009-2029

Wikipedia. 2015. Desain. Didapat dari https://id.wikipedia.org/wiki/Desain

Zoel, Era. 2014. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan model pembelajaran. Dalam Belajar Ilmu : didapat dari http://irawatiardi.blogspot.co.id/2014/11/pengertian-pendekatan-strategi-metode.html

Video KKL
Video Pak Totok Kalicode



[1] Pemetaan Partisipatif ialah pemetaan kampung yang melibatkan partisipasi langsung dari warga dan untuk warga


[1]  Wedi kengser ialah Tanah yang muncul ke permukaan sungai yang biasanya berada di di bibir sungai bahkan kadang menjorok ke badan sungai. Tanah ini dikuasai oleh pemerintah secara undang-undang.
[2] Terdapat 3 sungai yang melintasi Kota Jogjakarta yakni Sungai Code, Sungai Gajahwong, dan Sungai Winongo

PERJALANAN ISTIMEWA SEPANJANG MALIOBORO


Masih di Yogyakarta, Kali ini eki akan mengulas catatan perjalanan yang menyenangkan di salah satu Jalan yang Paling Populer di Daerah Istimewa Yogyakarta.

JALAN MALIOBORO
Malioboro Street
(ꦗꦭꦤ꧀ ꦩꦭꦶꦪꦧꦫ)



Siapa yang tak pernah mendengar nama jalan Malioboro ? Bahkan orang yang belum pernah menginjakkan kaki di tanah sultan ini pun pasti sudah pernah mendengar nama jalan ini. Jalan Malioboro seakan tak pernah lepas dari bahasan saat orang berbicara tentang Yogyakarta. Jalan ini seolah menjadi satu kesatuan saat kita berbicara tentang kunjungan ke Yogyakarta, sampai muncul sebuah ungkapan yang menyatakan kalau berkunjung ke Yogyakarta rasanya belum Afdhol bila belum menyusuri jalan Malioboro dan berfoto di Tugu Paal Putih yang menjadi ikon kota pelajar ini.

Jalan Malioboro merupakan jalan yang cukup ternama di Yogyakarta.  Jalan yang terletak di jantung kota Yogyakarta ini memang salah satu titik wisata yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun manca negara. Tidak terlalu sulit untuk menemukan jalan Malioboro. Jika Anda dari luar kota dan menggunakan kereta api, maka turunlah di stasiun Tugu. Dari stasiun Tugu Anda cukup berjalan kaki kira-kira 100 meter ke arah timur dari pintu keluar, maka Anda akan mendapati jalan bertuliskan plang bertuliskan “Jalan Malioboro”. Jika anda sedang berada di Tugu Paal Putih, anda berjalan lurus beberapa ratus meter ke arah selatan. Apabila anda berhenti di kilometer 0 Yogyakarta, anda hanya perlu menempuh jarak satu kilometer ke arah utara. Karena letaknya yang berada di pusat  kota Yogyakarta, sehingga untuk menuju kesana dapat ditempuh melalui arah manapun.

Bagi pengunjung yang hendak melakukan ekspedisi menyisir koridor jalan lurus yang membentang dari KM 0 Yogyakarta menuju Tugu Pal Putih. Hendaknya memulai perjalanan dari gedung Pos Yogyakarta. Dari gedung pos, jalan ke arah utara, menyebrang ke Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Seiring langkah kaki yang diayunkan menuju utara melalui Jalan Ahmad Yani, mata akan mulai dimanjakan oleh pedagang-pedagang makanan, cendramata, jasa foto bahkan jasa tattoo yang mengisi sepanjang trotoar pedestrian yang kita lalui. Selain mendengar keramaian para pedagang, telinga akan mendengar alunan irama gamelan yang diperdengarkan melalui pengeras-suara yang terpasang sepanjang koridor jalan tersebut. Keramaian yang dijumpai sepanjang koridor tersebut seakan menghipnotis pengunjung sehingga membuat tak terasa lelah ribuan langkah kaki yang telah diayunkan.

Dipenghujung koridor Jalan Ahmad Yani, akan kita jumpai persimpangan yang apabila kita lanjutkan perjalanan ke arah utara, maka kita akan memasuki jalan Malioboro yang tersohor itu. Sebelum itu, di sisi timur penghujng koridor tersebut terdapat tempat yang dipenuhi oleh kios-kios pakaian oblong hingga Batik, cendramata, gerabah dan makanan khas Yogyakarta. Bagi pengunjung muslim yang hendak mendirikan sholat, maka langkah kali agak diperpanjang beberapa puluh meter menyusuri jalan kearah timur karena disana terdapat fasilitas ibadah berupa masjid. Usai sholat, pengunjung dapat beristirahat sekadar meluruskan kaki dan punggung sejenak di masjid tersebut sebelum melanjutkan perjalanan yang masih cukup panjang.

Kembali lagi di persimpangan jalan A. Yani dan Jalan Malioboro. Apabila langkah dilanjutkan kearah utara memasuki jalan Malioboro, kita akan disambut oleh sebuah pusat perbelanjaan tradisional yang cukup tua lagi ternama di Yogyakarta, yakni Pasar Beringharjo di sisi timur. Mulai dari sana, trotoar yang akan ditempuh seolah menyempit karena intensitas keramaian yang meningkat. Sepanjang jalur pedestrian tersebut tampak berjajar rapi lapak pedagang kaki lima yang menjajakan buah, jajanan tradisional, oleh-oleh khas Yogyakarta, souvenir dan lain sebagainya. Masih di sisi yang sama, akan kita jumpai pusat perbelanjaan modern Mall Malioboro yang sepanjang jalur pedestrian di depan bangunan tersebut dijadikan tempat parkir kendaraan roda dua diberikan kanopi dan diberi hiasan berupa lampu-lampu kecil yang bergelantungan menyerupai tirai. Jika telah melalui tempat tersebut, artinya tak lama lagi sampai di penghujung koridor jalan tersebut. Koridor Jalan malioboro ini memang dipenuhi oleh pusat-pusat perbelanjaan, pedagang makanan, cendramata khas Yogyakarta dan pedagang-pedagang lainya.

Setibanya di persimpangan Jalan Malioboro tersebut, pemandangan yang dilihat berupa jalur kereta api. Karena seratus meter kearah barat melalui jalan Pasar Kembang, akan dijumpai stasiun kereta api yang telah berdiri sejak jaman belanda yakni Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta. Setelah menyebrangi jalur kereta api dan melanjutkan perjalanan ke arah utara, mata tak akan lagi disuguhkan pemandangan berupa keramaian pedagang kaki lima. Pemandangan akan lebih luas, kepala akan mulai menengadah memandang ke atas. Karena Di sepanjang Jalan tersebut berdiri megah sederetan hotel-hotel mewah dengan bergaya modern dihiasi permainan cahaya nan indah pada fasadnya yang menambah keindahan jalan tersebut.

(Jalan Sekitar Tugu Paal Putih yang "Bermandikan Cahaya")

Tiba di ujung koridor tersebut, akan tampak tugu putih yang disoroti cahaya lampu dari kakinya. Ya, Itulah tugu Pal Putih (De Witte Paal Monumen) yang menjadi kebanggaan masyarakan Yogyakarta. Dihimbau bagi para pengunjung agar tidak terburu-buru menyebrang ke tugu tersebut. Karena tugu tersebut berada di tengah-tengah persimpangan yang ramai kendaraan berlalu-lalang disana. Maka dari itu ada baiknya mengarahkan pandangan ke sisi timur jalur pedestrian yang sama, tepat di sebelah tenggara tugu tersebut, terdapat taman dengan replika tugu golong gilig yang merupakan tugu pertama sebagai simbol kesatuan masyarakat Yogyakarta masa itu yang berbentuk silinder (gilig) pada badan tugu, dan Bola (Golong) pada puncaknya. Itulah wujud awal tugu Jogja yang pernah berdiri di tempat tugu Paal putih berdada saat ini. Disana juga terdapat podium (Panggung Krapyak) yang diatasnya tertata sebuah miniatur yang menunjukkan posisi keraton dan Tugu tersebut berada pada garis yang lurus, dimana keraton berada di sisi selatan dan tugu berada di sisi utara. Jalur itulah yang baru saja kita tempuh untuk menuju kemari. Pada sisi tembok yang membatasi taman dengan bangunan sekitarnya, terdapat gambar-gambar  yang menceritakan sejarah pembuatan tugu golong gilig, runtuhnya tugu golong gilig akibat gempa bumi yang menghantam Yogyakarta pada tanggal 4 Sapar 1796 J menurut penanggalan jawa  (10 Juni 1867 M) yang dikenang melalui candrasengkala*) “Obah Trus Pitung Bumi”. Inggasampai akhirnya proses pemabngunan kembali tugu tersebut  dengan bentuk yang saat ini dikenal sebagai Tugu Pal Putih Yogyakarta yang diresmikan pada 7 Sapar 1819 J (3 Oktober 1889 M) yang dikenang melalui  candrasengkala “Wiwara Harja Manggala Praja”. Bagi pengunjung yang enggan atau kesulitan membaca, di taman tersebut juga disediakan monitor LCD besar yang memutar animasi sejarah perkembangan tugu paal putih tersebut. Tujuan dari taman dengan fasilitas informasi yang sedemikian lengkap yang menceritakan sejarah tugu golong gilig hingga menjadi Tugu Paal Putih, agar pengunjung dapat mengetahui sejarah dari tugu tersebut. Tidak sekadar mengambil gambar dan numpang eksis saja disana atau mengambil gambar sebagai pelengkap kunjungan di Yogyakarta.

(Eki Sedang menikmati hidangan angkringan di sekitar Tugu Paal Putih)

Setelah mengetahui sejarah tentang Tugu Pal Putih, pengunjung dapat bersantai sejenak sembari menikmati pemandangan sekitar. Bagi pengunjung yang hendak beristirahat melepas lelah atau ingin menikmati sensasi minum kopi joss, pengunjung dapat singgah di kedai angkringan yang tak sulit dijumpai di sekitar persimpangan tersebut. Sekadar informasi tambahan, Kedai angkringan adalah tempat makan yang menjajakan aneka olahan nasi, sayur dan lauk-pauknya yang telah dikemasi sedemikian rupa dan langsung dibandroll harga guna memudahkan pembeli dan penjual dalam pembayaran. Adapun Kopi Joss, adalah secangkir kopi hitam biasa yang didalamnya terdapat bongkahan arang yang masih menyala sehingga menimbulkan bunyi “Jossssss...” saat dicelupkan. Baik harga makanan maupun minuman di angkringan ini relatif terjangkau, karena memang kedai-kedai angkringan banyak dijadikan tempat nongkrong kawula muda Yogyakarta. Bagi pengunjung yang belum pernah menyantap hidangan ala angkringan dan mencicipi minuman kopi joss Yogyakarta, maka disanalah tempat yang tepat. Karena sembari lidah bergoyang menikmati hidangan yang tersedia, mata juga ikut menikmati keramaian kota Pelajar lengkap dengan pemandangan Tugu Pal Putih Yogyakarta. (ꦌꦏꦶ)


-.-.-.-.-.-
*) Candrasengkala :  Metode yang digunakan masyarakat jawa dengan mengubah bilangan Tahun menjadi kalimat guna   mengingat suatu kejadian yang dibaca secara terbalik dari angka terakhir tahun tersebut. Misalnya 1796 menjadi “Obah (6) Trus (9) Pitung (7) Bumi (1)”.




JAMUAN ISTIMEWA DI KOTA ISTIMEWA

Kali ini Eki mau berbagi ulasan tentang tempat makan yang sempat Eki singgahi saat berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta pada 20 Januari 2016 lalu.

Tempat makan istimewa ini bernama :

THE HOUSE OF RAMINTEN
(ꦢꦼꦲꦮ꧀ꦱ꧀ ꦲꦺꦴꦥ꦳꧀ꦫꦩꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀)

(Beberapa Sajian The House Of Raminten)


“...Jogja istimewa bukan hanya daerahnya, tapi juga karena orang-orangnya...” -JHF. merupakan sepenggal lirik lagu hiphop yang belakangan ini berkumandang mengisi Soundtrack acara humor di televisi yang menunjukkan suasana kehidupan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada lirik lagu tersebut tersurat makna bahwa Kota Yogyakarta tidak hanya memiliki keistimewaan dalam sistem pemerintahan, adat istiadat dan pola kehidupan masyarakatnya, melainkan terdapat juga keistimewaan dalam cara berpikir warganya.
Masrayakat jogja dikenal sebagai masyarakat yang kretaif dan memiliki semangat berkarya yang tinggi. Pemikiran-pemikiran kreatif masyarakat Yogyakarta mampu mengemas hal-hal yang biasanya kita anggap sepele menjadi sangat diminati. Selain menyulap benda-benda menjadi lebih bermanfaat, mereka juga mampu mengemas kuliner jalanan menjadi lebih berkelas dan menarik  hati, seperti yang terdapat di kedai makanan The House of Raminten.
The House of Raminten merupakan warung makan yang cukup terkenal seantero kota Yogyakarta. Warung makan ini memiliki konsep yang unik dalam mengemas suasana tempat makan hingga konsep makanan yang disajikan. Itulah alasan mengapa warung makan yang berlokasi di Jalan FM Noto nomor 07, Kota Baru, Yogyakarta ini cukup populer di kalangan masyarakat Yogyakarta.



(Sosok Seorang Raminten dan salah satu barang antik berupa andong yang menghiasi tempat ini) 


Jika dilihat dari sisi luar, bangunan tiga lantai dengan nuansa tradisional ini terkesan tiada bedanya dengan bangunan di tempat lain yang mengangkat nuansa tradisional jawa. Sebelum memasuki tempat makan ini, pengunjung disambut oleh banner bergambar wanita dengan busana jawa lengkap dengan sanggul dan aksesorisnya, yang dikabarkan itulah potret sang pemilik warung makan tersebut. Ketika mulai melangkahkan kaki memasuki tempat ini, nuansa jawa akan semakin kental terasa. Pengunjung akan disambut dengan aroma kembang setaman dan setiap langkah kaki akan diiringi irama gamelan jawa. Hal ini bertujuan memberi penghormatan ala tradisi jawa kepada para pengunjung, sehingga pengunjung merasa seperti tamu kehormatan yang sedang melangkah memasuki keraton kebesaran jaman kerajaan mataram.

Ruang pertama yang ditemukan setelah melewati pintu masuk ialah ruang tunggu. Di ruang tunggu ini disediakan bangku-bangku bagi pengunjung yang mengantri giliran karena kehabisan tempat di ruang makan. Menurut kabar yang beredar, The House of Raminten ini selalu kebanjiran pengunjung pada jam-jam tertentu. Betapa pengertian pihak warung makan kepada pengunjung, disediakan televisi di ruang tunggu guna mengusir jenuh bagi pengunjung yang mengantri. Masih di ruang tunggu, pengunjung disuguhkan pajangan berupa benda-benda pusaka seperti keris, alat gamelan, wayang, patung sepasang temanten jawa serta terdapat kereta andong tanpa kuda. Benda-benda tersebut terlihat seolah pusaka yang dihormati karena terdapat kembang setaman di setiap tempat dimana benda tersebut berada. Irama gamelan jawa, benda-benda pusaka, aroma kembang setaman dipadu kemenyan, didukung oleh nuansa pencahayaan yang redup seolah pengunjung sedang berada di ruang meditasi masyarakat jawa pada zaman kerajaan. Hal yang demikian secara tidak langsung memberikan ketenangan jiwa dan memberikan nuansa nyaman ala masyarakat jawa bagi para pengunjung yang datang.

Beranjak dari ruang tunggu, kita akan diarahkan oleh pramusaji yang berparas ayu menuju ruang makan yang berada di lantai atas. Setibanya di lantai dua, anda akan merasakan nuansa yang berbeda dengan ruang tunggu tadi. Pencahayaan pada lantai ini cukup terang, karena tidak terdapat dinding pembatas antara ruang dalam dan ruang luar. Angin luar bebas berhembus pada ruangan ini. Ketika kaki meninggalkan anak tangga terakhir, mata pengunjung akan disuguhkan pemandangan berupa kendaraan yang berlalu lalang di sisi kiri, dan jika kita arahkan pandangan ke sisi kanan kita akan melihan pemandangan berupa taman asri yang berada di innercourt rumah makan ini. Saat pandangan kita  coba sapukan ke penjuru ruangan, kita akan mendapati beberapa banner dan foto wanita jawa dengan bermacam  gaya yang dibintangi oleh tokoh yang sama pada banner yang menyambut kita di ruang depan. Meja-meja dan bangku lesehan tertata rapi menanti untuk ditempati. Dengan penataan ruangn yang demikian, maka pengunjung akan dibuai oleh nuansa santai dan keramah tamahan dari rumah makan tersebut.
Pengunjung yang sudah mengambil posisi akan segera dihampiri oleh pramusaji yang siap melayani. Akan banyak kita lihat pramusaji berparas ayu dan tampan mengenakan busana kasual bermotif batik yang sibuk  berlalu lalang melayani pelanggan sambil menenteng alat komunikasi berupa Handy Talky guna berkomunikasi dengan rekan terkait pesanan pelanggan. Selain berparas elok, pramusaji disini juga ramah terhadap pelanggan, mereka mnggunakan tutur bahasa nan santun sehingga pelanggan merasa lebih dihargai. Itulah cara mereka menghormati para pelanggan yang datang.

Di meja makan, terdapat beberapa buku menu yang pada sampulnya  lagi-lagi terdapat foto wanita berbusana jawa yang tak asing kita lihat di tempat tersebut. Saat membuka buku tersebut, terlihat sederetan menu yang sudah tak asing kita temui di warung makan pada umumnya dan warung makan pinggir jalan, terdapat pula menu-menu khas daerah jawa dan daerah jogja dan yang membuat hati penasaran ialah terdapat beberapa menu sajian dengan nama vulgar yang tertulis unik dan membuat hati tergelitik. Diantaranya adalah minuman Susu Perawan Tancep, Nasi Koteka, Susu Putih Mulus, Gajah Ndekem, Beer Jawa dan lain sebagainya. Bagi orang luar yang baru pertama kali bertandang ke tanah Jawa khususnya Daerah Yogyakarta, selain menu khas setempat seperti nasi rawon, gudeg, kupat tahu, nasi kucing dan lain sebagainya, maka hidangan dengan nama unik ini juga tak luput dari daftar menu yang harus mereka cicipi saat berkunjung di warung makan ini.

Ketika hidangan tersaji di atas meja dan siap santap, maka akan lumrah kita temui individu-individu yang memfoto hidangan tersebut sebelum menyantapnya. Bukan alasan kekinian atau pamer makan di tempat mewah, namun memang wujud makanan yang tersaji dihadapan pelanggan tersebut dihidangkan secara menarik dan timbul rasa sayang bila langsung memakan tanpa mengabadikannya terlebih dahulu. Seperti misalnya menu nasi koteka yang berwujud  sepotong bambu yang disisinya terdapat mangkuk kecil berisi sambal dan beberapa lalapan hijau yang tergeletak diatas piring putih. Setelah diketahui, ternyata isi bambu tersebut adalah nasi yang dibalut telur dan berisikan daging ayam suwir yang dimasak dalam sebilah bambu yang seolah nasi tersebut berada dalam sebuah koteka. Menu lain yang bernama Susu Perawan Tancep tak kalah menggelitik hati khususnya bagi para tamu laki-laki. Minuman yang disajikan hanyalah berupa es susu biasa yang disajikan dalam cangkir yang unik. Cangkir porselen yang unik ini terkesan vulgar karena bentuknya yang menyerupai payudara wanita. Selain dua hidangan unik tersebut, masih banyak hidangan lain dengan konsep penyajian yang unik dan menarik hati.

(Sajian Susu Perawan Tancep)


Tak hanya menyajikan hidangan dalam wujud yang menarik, Warung ini juga menawarkan harga dan porsi yang sangat merakyat. Harga setiap menu yang terdapat di warung makan tersebut tak kalah bersahabat  jika dibandingkan dengan harga makanan di angkringan-angkringan yang kita temui seantero Yogyakarta. Bicara soal porsi, dengan harga yang relatif terjangkau pengunjung akan tetap diberikan porsi yang cukup mengenyangkan bahkan ada beberapa menu yang tak mampu dihabiskan oleh satu orang saja. Seperti misalnya minuman es dawet dan es kelapa muda. Es dawet dan Es kelapa muda disana disajikan dengan gelas jumbo yang cukup untuk membuat tiga orang kekenyangan menghabiskan satu porsinya. Harga dan porsi yang menggiurkan tersebut menjadikan warung ini selalu menjadi destinasi wisata kuliner bagi mahasiswa dan pelajar di kota ini.

Hingga saat ini, The house of Raminten masih tetap dibanjiri pelanggan karena penerapan konsep yang unik tersebut. Jika rumah makan lain menyajikan menu-menu modern bahkan menu luar negeri, maka rumah makan ini malah mengangkat kuliner setempat. Warung makan ini menyulap kuliner kelas bawah menjadi hidangan mewah dengan harga yang relatif murah. Warung makan yang kental dengan nuansa jawa yang identik, pramusaji ramah yang tampan dan cantik, slogan-slogan yang terpampang juga unik, sajian makanan yang menarik, membuat tempat ini sangat direkomendasikan sebagai salah satu destinasi wisata kuliner bagi anda yang hendak berkunjung ke kota pelajar ini. (EQ)

___

Baiklah pembaca yang budiman, 
daripada penasaran gimana tempat dan suasana aslinya..
langsung cek aja deh ke TKP.. Pokoknya Rekomended banget ni tempat bagi yang lagi ato akan plesiran ke Tanah Sultan yang satu ini..